JEPARA — Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Wilayah Jawa Tengah secara resmi membuka rangkaian pelaksanaan komitmen transparansi publik melalui kegiatan Entry Meeting Audit Keuangan Tahun Buku 2025. Pertemuan strategis yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting pada Selasa pagi, 7 Juli 2026 ini, menandai dimulainya audit menyeluruh yang melibatkan Kantor Akuntan Publik (KAP) Abdul Hamid dan Rekan bagi seluruh struktur pengelola keuangan Lazismu Daerah di wilayah Jawa Tengah.
Agenda tahunan ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulatif yang bersifat administratif. Bagi Lazismu Se Jawa Tengah, audit independen yang rutin digelar setiap tahun merupakan pilar utama dalam merawat integritas kelembagaan serta menjamin akuntabilitas setiap rupiah dana publik yang dihimpun dari para muzaki dan donatur. Dalam suasana penuh khidmat, forum yang dihadiri oleh Badan Pengurus Lazismu, Manager dan Divisi Keuangan Lazismu Se Jawa Tengah.
Tepat pukul 09.00 WIB, rangkaian acara dimulai dengan dipandu oleh Master of Ceremonies (MC) dari Lazismu Wilayah Jawa Tengah. Suasana religius dan nasionalis berpadu erat ketika Abdul Aziz Agbo melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara tartil. Seluruh peserta yang terhubung via ruang digital kemudian bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan disusul dengan lagu Sang Surya, simbol semangat pergerakan Muhammadiyah yang pantang surut dalam berkontribusi bagi kemaslahatan bangsa.
Lompatan Signifikan Penghimpunan: Menembus Angka Rp343,4 Miliar
Dalam kesempatan sambutan dan pengantar yang disampaikan oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, S.E., M.SEI., Ak., CTA, ACPA, CertDA. diungkapkan data perkembangan performa keuangan yang menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat menggembirakan. Berdasarkan data komparatif yang dihimpun dari tahun 2021 hingga tahun 2025, grafik penghimpunan dana publik oleh Lazismu di Jawa Tengah terus merangkak naik secara berkelanjutan. Lonjakan tertinggi tercatat pada penutupan Tahun Buku 2025, di mana total akumulasi penghimpunan 2025 berhasil menembus angka fantastis, yakni sebesar Rp343,4 miliar.
Pencapaian angka Rp343,4 miliar tersebut dipandang sebagai indikator valid atas semakin kokohnya tingkat kepercayaan (public trust) masyarakat terhadap kinerja Lazismu Jawa Tengah serta persyarikatan Muhammadiyah secara umum. Pengelolaan dana dalam skala sebesar itu tentu membawa tanggung jawab moral dan hukum yang luar biasa besar, yang menuntut mekanisme kontrol internal dan eksternal yang tanpa celah.
“Penghimpunan dana di Lazismu Se Jawa Tengah terus mengalami peningkatan yang konsisten sejak tahun 2021 hingga tahun 2025. Kepercayaan publik yang dititipkan kepada Lazismu dan Muhammadiyah pada tahun 2025 ini telah membawa total penghimpunan mencapai angka Rp343,4 miliar. Ini adalah amanah yang sangat besar,” ujar Dwi Swasana Ramadhan dalam pidato sambutannya yang lugas.
Tidak hanya dari aspek penghimpunan (fundraising), performa efisiensi lembaga juga dibuktikan melalui rasio penyaluran dana yang seimbang dan efektif. Pada tahun buku yang sama, total penyaluran dana kemaslahatan umat oleh Lazismu se-Jawa Tengah berhasil mencapai Rp327,6 miliar. Jumlah penyaluran ini sengaja dipacu sedemikian rupa untuk memenuhi target rasio efektivitas penyaluran yang telah ditetapkan oleh regulasi internal maupun nasional, yakni minimal berada pada angka 85% dari total dana yang terhimpun.
Dwi Swasana Ramadhan menjelaskan secara rinci bahwa komposisi penyaluran tersebut didistribusikan secara merata ke berbagai pilar program. Sumber pendanaan penyaluran meliputi dana zakat, infak, Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL), serta dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang dipercayakan oleh berbagai mitra korporasi. Kendati demikian, porsi terbesar dalam struktur pendapatan dan penyaluran dinamis ini tetap didominasi oleh sektor infak, yang mencerminkan tingginya kesadaran bersedekah harian di kalangan masyarakat Se Jawa Tengah.
Lebih lanjut, akurasi pelaporan keuangan ini diperjelas dengan keterbukaan mengenai pos beban operasional yang dikeluarkan oleh lembaga, yakni tercatat sebesar Rp3,2 miliar. Sementara itu, untuk beban penyaluran yang berkaitan langsung dengan Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola atau amil di lapangan, dialokasikan anggaran sebesar Rp11,8 miliar. Melalui keterbukaan struktur biaya operasional ini, manajemen Lazismu ingin membuktikan bahwa prinsip efisiensi biaya tetap dijaga ketat demi memastikan porsi terbesar dana benar-benar mengalir kepada para mustahik (penerima manfaat).
Di akhir penyampaiannya, Dwi Swasana Ramadhan menaruh harapan besar kepada seluruh tim eksternal dari Kantor Akuntan Publik yang bertugas agar pengerjaan audit dapat berjalan secara taktis tanpa mengorbankan ketelitian. Pihaknya berharap agar angka laporan keuangan yang telah diaudit (audited financial statements) dapat dirampungkan tepat waktu dan tidak mengalami keterlambatan hingga melewati batas pergantian tahun.
Komitmen Pusat: Menguatkan Arsitektur Filantropi Islam
Langkah progresif yang diambil oleh Lazismu Jawa Tengah mendapat apresiasi tinggi dan pengarahan langsung dari tingkat pusat. Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, M.IR., yang turut hadir dalam ruang virtual tersebut menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas konsistensi jajaran pengelola di Jawa Tengah. Menurutnya, pelaksanaan audit laporan keuangan secara berkala dan berkesinambungan merupakan bukti kedewasaan organisasi dalam mengelola dana publik secara modern.
“Kami sangat bersyukur Lazismu, khususnya di wilayah Jawa Tengah, secara konsisten mampu melaksanakan audit keuangan ini secara rutin dari tahun ke tahun. Harapan besar kami, proses audit untuk Tahun Buku 2025 ini dapat dituntaskan dengan hasil terbaik, yakni memperoleh predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada bulan Agustus mendatang. Pelaksanaan audit yang kredibel secara langsung akan menguatkan fondasi ekosistem filantropi Islam di Indonesia,” tegas Ahmad Imam Mujadid Rais.
Ahmad Imam Mujadid Rais menggarisbawahi bahwa perolehan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan instrumen strategis untuk memperkuat posisi Lazismu sebagai lembaga filantropi yang akuntabel di mata hukum negara dan syariat.
Paradigma Baru Audit: Bukan Sekadar Opini, Melainkan Sarana Pembinaan
Menanggapi harapan dari jajaran pengurus Lazismu, perwakilan dari pihak auditor independen, Drs. Abdul Hamid Cebba, MBA., CA., CPA., selaku pimpinan Kantor Akuntan Publik (KAP) Abdul Hamid dan Rekan, memberikan pandangan profesionalnya mengenai hakikat dari proses pemeriksaan keuangan. Ia menegaskan bahwa kehadiran tim auditor di lingkungan Lazismu tidak semata-mata bertindak sebagai pemeriksa yang kaku atau pencari kesalahan teknis pencatatan belaka.
Sebaliknya, Abdul Hamid menawarkan paradigma baru yang lebih kolaboratif. Ia menjelaskan bahwa tujuan akhir dari proses audit ini bukan sekadar mengejar sertifikat atau opini WTP formal demi kebutuhan prestise kelembagaan. Aspek yang jauh lebih esensial adalah bagaimana momentum pemeriksaan ini dimanfaatkan sebagai sarana pembinaan intensif, perbaikan tata kelola (governance), dan peningkatan kinerja manajerial secara berkelanjutan di seluruh tingkatan daerah.
“Proses audit yang kami lakukan ini tujuannya bukan sekadar mendapatkan opini WTP. Akan tetapi, ini adalah proses pembinaan sistemik dan upaya bersama untuk memperbaiki kinerja keuangan lembaga, agar nantinya kapasitas organisasi ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Saya berpesan, binalah Lazismu ini dengan baik, kedepankan asas transparansi, dan jaga akuntabilitas di setiap lini,” papar Drs. Abdul Hamid Cebba dengan penuh penekanan.
Melalui pendekatan pembinaan ini, KAP Abdul Hamid dan Rekan berkomitmen untuk membantu manajemen Lazismu se-Jawa Tengah dalam mengidentifikasi area-area yang memerlukan mitigasi risiko keuangan, menyempurnakan sistem pengendalian internal, serta memastikan kepatuhan terhadap Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 109 yang mengatur tentang Akuntansi Zakat, Infak, dan Sedekah.
Tiga Pilar Utama Kepercayaan Publik
Puncak pengarahan sekaligus pembukaan acara secara resmi dilakukan oleh Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, H. Dodok Sartono, S.E., M.M. Dalam pidato pengarahannya yang komprehensif, beliau mengajak seluruh amil dan pengurus Lazismu untuk mereformasi cara pandang dalam menghadapi audit keuangan. Audit tidak boleh lagi ditakuti sebagai momok atau dipandang dingin sebagai rutinitas pemenuhan berkas administrasi tahunan.
Dodok Sartono menekankan bahwa momentum audit harus diinternalisasi sebagai bagian dari ikhtiar spiritual dan profesional untuk senantiasa memperbaiki diri. Ia mendorong transformasi institusional agar audit dijadikan sebagai bagian dari budaya belajar (learning culture), budaya memperbaiki kesalahan, serta budaya bertumbuh (growth culture) demi mewujudkan organisasi yang sehat.
“Momen audit keuangan ini bukanlah sekadar pemeriksaan berkas administrasi di atas kertas. Ini adalah ikhtiar nyata Lazismu untuk menjaga amanah umat. Jadikan audit ini sebagai budaya belajar, budaya memperbaiki diri, dan budaya untuk terus bertumbuh. Tim KAP akan mendukung penuh ikhtiar kita dalam meningkatkan tata kelola dan membangun kepercayaan masyarakat. Bagi Lazismu, kepercayaan masyarakat adalah modal utama yang tidak berwujud namun bernilai paling tinggi,” urai H. Dodok Sartono.
Dalam konteks membangun dan mempertahankan kepercayaan masyarakat yang menjadi urat nadi pergerakan Lazismu, Dodok Sartono menitipkan pesan mendalam mengenai tiga pilar krusial yang wajib dijaga oleh setiap amil dan pengurus Lazismu di daerah. Ketiga pilar tersebut adalah:
- Integritas (Integrity): Keselarasan antara perkataan, pencatatan, dan tindakan di lapangan. Setiap amil harus memiliki kejujuran absolut dalam mengelola aset umat, bebas dari benturan kepentingan, serta teguh memegang prinsip syariah dan regulasi formal.
- Kompetensi (Competence): Keterampilan, pengetahuan, dan profesionalisme dalam bidang manajemen keuangan, akuntansi, dan hukum filantropi. Semakin tinggi kompetensi yang dimiliki oleh para pengelola, maka potensi terjadinya salah kelola dana (mismanagement) dapat ditekan hingga titik nol.
- Kedekatan (Closeness / Proximity): Membangun hubungan komunikasi yang harmonis, transparan, dan responsif dengan para donatur maupun dengan masyarakat penerima manfaat. Kedekatan ini memastikan bahwa Lazismu selalu hadir di tengah-tengah problem sosial kemasyarakatan secara nyata.
Artikulasi Teknis dan Kerangka Kerja Audit Tahun Buku 2025
Memasuki sesi inti teknis pelaksanaan, Dr. Wilda Farah, S.E., Ak., M.Si., CA., CPA., BKP., CSRS., CSRA., CSP., selaku perwakilan tim ahli dari KAP Abdul Hamid dan Rekan, memaparkan secara terperinci mengenai peta jalan (roadmap) dan metodologi audit yang akan diterapkan selama beberapa pekan ke depan. Penjelasan teknis ini bertujuan menyamakan persepsi dan kesiapan dokumen di tingkat daerah agar proses pemeriksaan berjalan efektif dan efisien.
Dalam paparannya, Dr. Wilda Farah menguraikan enam poin pembahasan utama yang menjadi kerangka kerja (framework) pelaksanaan audit keuangan Lazismu se-Jawa Tengah Tahun Buku 2025:
- 1. Susunan Tim Audit: Pengenalan personalia akuntan publik profesional yang ditugaskan secara khusus untuk melakukan pemeriksaan, verifikasi, dan validasi data di masing-masing klaster daerah.
- 2. Timeline Audit dan Schedule Fieldwork: Penjadwalan linimasa kerja yang ketat, mencakup batas waktu penyerahan berkas awal, pelaksanaan kerja lapangan (fieldwork) baik secara daring maupun luring, hingga tahap finalisasi draf laporan interim.
- 3. Prosedur Audit: Metode pengujian substantif, uji kepatuhan (compliance test), konfirmasi saldo bank, verifikasi dokumen fisik tanda terima penyaluran, serta pemeriksaan kesesuaian transaksi dengan PSAK 109.
- 4. Area Signifikan: Fokus pemeriksaan pada pos-pos krusial yang memiliki risiko bawaan tinggi, seperti ketepatan pisah batas (cut-off) akhir tahun, validitas data muzaki, akurasi klasifikasi dana terikat dan tidak terikat, serta efisiensi beban operasional.
- 5. Output Audit: Hasil akhir berupa laporan audit independen yang memuat opini resmi dari akuntan publik, serta management letter yang berisi catatan rekomendasi strategis untuk perbaikan internal.
- 6. Permintaan Data dan Korespondensi: Mekanisme komunikasi dua arah dan standardisasi format pengiriman data digital (softcopy) guna mempercepat proses verifikasi data tanpa kendala jarak.
Menutup pemaparan teknisnya, Dr. Wilda Farah kembali mempertegas visi positif dari proses audit ini. Beliau menekankan bahwa seluruh jajaran pengurus daerah tidak perlu bersikap defensif selama proses audit berlangsung. Kehadiran auditor dirancang untuk memberikan nilai tambah (value-added) yang nyata bagi perkembangan kelembagaan di masa depan.
“Kami ingin menegaskan kembali bahwa esensi dari proses audit ini bukanlah untuk mencari-cari kesalahan manajemen. Fokus utama kita adalah bagaimana profesi kami sebagai auditor dapat berkontribusi positif dalam memberikan perbaikan tata kelola, mitigasi risiko keuangan, serta memberikan rekomendasi-rekomendasi yang lebih konkret dan aplikatif agar Lazismu Jawa Tengah semakin solid ke depannya,” pungkas Dr. Wilda Farah secara optimis.
Dengan terlaksananya Entry Meeting ini, koordinasi intensif antara Lazismu se-Jawa Tengah dan KAP Abdul Hamid dan Rekan resmi berjalan. Seluruh jajaran amil di tingkat daerah kini bersiap menyajikan data keuangan terbaik mereka, sebagai perwujudan nyata dari komitmen gerakan filantropi Islam yang modern, akuntabel, transparan, dan profesional demi kemaslahatan umat dan bangsa. Pelaksanaan audit ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi lembaga amil zakat lainnya di Indonesia untuk terus menjaga marwah akuntabilitas publik secara paripurna. (Resa – Staff Keuangan Lazismu Jepara)