Gerakan filantropi Islam modern menuntut adanya integrasi yang kuat antara akuntabilitas keuangan dan keterbukaan informasi. Atas dasar kebutuhan tersebut, Lazismu Kabupaten Jepara menginisiasi pelatihan intensif dengan mengangkat tema besar “Jurnalisme Filantropi: Menulis Berita Akurat, Menjaga Amanah Muzakki, Memuliakan Mustahik”.
Agenda strategis yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB ini mendapatkan sambutan yang sangat positif dari internal organisasi. Pelatihan ini secara khusus melibatkan seluruh jajaran eksekutif Lazismu Jepara serta para mahasiswa penerima manfaat Beasiswa Sang Surya, dengan menghadirkan praktisi media, Dina Setyaningsih, sebagai narasumber utama.
Manajemen Lazismu Jepara merumuskan empat target objektif yang ingin dicapai melalui pelaksanaan Sekolah Jurnalistik ini.
- Penerapan Unsur 5W+1H: Seluruh jajaran eksekutif diharapkan mampu menguasai teknik penulisan berita yang baik, benar, dan menarik dengan mengadopsi secara ketat rumus jurnalisme universal (What, When, Who, Why, Where, dan How).
- Internalisasi Kode Etik Khusus: Para peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai Kode Etik Jurnalisme Filantropi. Fokus utamanya adalah bagaimana mengabarkan kerja kemanusiaan dengan tetap menjaga amanah para muzaki (pemberi zakat) sekaligus memuliakan martabat serta harga diri para mustahik (penerima manfaat) tanpa mengeksploitasi kemiskinan.
- Elevasi Kepercayaan Publik (Public Trust): Melalui penyusunan laporan kegiatan yang dikemas dalam bentuk berita jurnalistik yang rapi, kredibel, dan informatif, Lazismu Jepara membidik peningkatan grafik kepercayaan masyarakat secara linier.
- Amplifikasi Syiar Keumatan: Pelatihan ini diproyeksikan sebagai motor penggerak humas agar setiap aktivitas, program kerja, dan penyaluran dana maslahat yang dilakukan oleh Lazismu Jepara dapat terpublikasikan secara luas dan diketahui oleh masyarakat banyak.
Memasuki sesi inti, narasumber Dina Setyaningsih langsung memaparkan materi fundamental mengenai anatomi penulisan media berita. Dalam penjelasannya, Dina menggarisbawahi bahwa sebuah produk jurnalistik yang sehat harus bersandar pada pemenuhan unsur-unsur kelengkapan fakta yang tertuang dalam formula 5W+1H.
Beliau menyampaikan secara tidak langsung bahwa menulis berita filantropi tidak sekadar memindahkan kejadian lapangan ke dalam teks publikasi, melainkan harus mampu mengenali karakteristik unik dari setiap peristiwa.
Penulis harus jeli melihat sudut pandang (angle) mana yang paling edukatif dan humanis. Memahami karakteristik ini dinilai krusial agar pesan utama mengenai akuntabilitas penyaluran dana zakat dapat tersampaikan dengan jernih kepada publik tanpa menimbulkan salah tafsir.
Meski materi yang dibahas berbobot akademis dan teknis, jalannya kegiatan di Aula Lantai 2 tersebut didesain dengan suasana yang sangat santai, interaktif, dan mengalir. Formula ini sengaja diterapkan agar memicu daya kritis peserta. Tidak sekadar mendengarkan teori, setiap peserta—baik staf eksekutif maupun mahasiswa penerima Beasiswa Sang Surya—langsung diberikan kesempatan melakukan praktik lapangan (workshop) berupa simulasi menulis berita di tempat secara mandiri. Langkah ini diambil untuk menguji sejauh mana pemahaman teoretis yang baru saja mereka serap.
Respons positif dan komitmen jangka panjang terhadap program penguatan kapasitas kehumasan ini ditegaskan langsung oleh pimpinan struktural lembaga. Manajer Lazismu Jepara, Nurcholis, menyatakan bahwa keterampilan menulis merupakan salah satu pilar penunjang profesionalitas lembaga amil zakat di era digital saat ini.
Nurcholis menyampaikan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi antusiasme para peserta dalam menyerap ilmu jurnalisme dasar ini. Ke depan, ia berkomitmen agar pelatihan sejenis tidak berhenti sebagai agenda seremonial satu kali selesai, melainkan harus terus dipertahankan secara berkala sebagai program kerja wajib guna meng-upgrade kecakapan (skill) individu staf internal.
“Kami memproyeksikan agar ke depannya pelatihan seperti ini tetap ada secara berkesinambungan demi meningkatkan kecakapan staf. Dengan adanya pembekalan Sekolah Jurnalistik ini, harapan besar kami adalah seluruh eksekutif Lazismu Jepara tanpa terkecuali mampu memproduksi berita secara mandiri dan mengimplementasikan ilmu teknis tersebut dalam pelaporan kerja sehari-hari,” tutur Nurcholis mantap di sela-sela penutupan acara.
Melalui Sekolah Jurnalistik ini, Lazismu Jepara tidak hanya sekadar melatih kemampuan menulis teks, melainkan sedang menanamkan kesadaran ideologis mengenai pentingnya transparansi media dalam mengawal dana publik. Narasi berita yang akurat dan beretika diharapkan mampu menjadi jembatan informasi yang kokoh antara kedermawanan muzaki dan kemaslahatan para mustahik di Kabupaten Jepara. (Diana – Peserta Sekolah Jurnalistik Lazismu Jepara/Eksekutif Lazismu Jepara)