Lazismu Jepara

Lazismu Jepara Gelar Safari Qurban Rendangmu 1447 H, Ajak Warga Teladani Filantropi KH Ahmad Dahlan

JEPARA – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu)  Jepara menggelar kegiatan bertajuk “Safari Qurban Rendangmu 1447 H” di Masjid At-Taqwa PDM Jepara, Ahad (10/5/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk menyosialisasikan inovasi qurban Muhammadiyah sekaligus membangkitkan kembali semangat kedermawanan di kalangan warga persyarikatan.

Dalam kajian Ahad pagi yang dihadiri ratusan jemaah Masjid At-Taqwa tersebut, Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Wilayah Jawa Tengah, Ikhwanushoffa, hadir sebagai pemateri utama. Ia menekankan pentingnya bagi warga Muhammadiyah untuk memprioritaskan sedekah di atas kepentingan gengsi duniawi.

Refleksi Teologi Al-Ma’un dan Kesalehan Sosial

Ikhwanushoffa membuka kajiannya dengan mengingatkan para jemaah bahwa ibadah ritual, seperti salat, seharusnya memiliki korelasi positif terhadap kesalehan sosial. Ia menyayangkan realitas masa kini di mana banyak orang terjebak dalam formalitas ibadah tanpa diiringi empati nyata terhadap masyarakat yang membutuhkan.

“Kita lihat kembali dalam Surat Al-Ma’uun. Di situ dijelaskan bahwa orang yang sholat itu bisa celaka, yakni mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi kepada orang miskin,” papar Ikhwanushoffa secara lugas di hadapan para jemaah.

Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap teologi Al-Ma’un adalah fondasi utama bagi gerakan Muhammadiyah. Tanpa kepedulian terhadap fakir miskin, ibadah seseorang kehilangan esensi spiritualitasnya yang paling mendasar.

Kritik terhadap Budaya Gengsi dan Resepsi Mewah

Lebih lanjut, Ikhwanushoffa memberikan kritik tajam terhadap fenomena sosial di mana masyarakat lebih rela menghabiskan dana besar untuk urusan prestise dibandingkan untuk perintah agama. Salah satu yang ia soroti adalah biaya resepsi pernikahan yang sering kali melampaui kemampuan finansial seseorang hanya demi gengsi semata.

Ia menyatakan bahwa sering kali ditemukan anggota masyarakat yang ikhlas mengeluarkan dana hingga Rp100 juta untuk sebuah pesta pernikahan. Bahkan, jika dana tersebut tidak tersedia, banyak yang berupaya mencari pinjaman agar pesta tetap terlaksana dengan mewah.

“Keluar uang Rp100 juta untuk resepsi panjenengan ikhlas. Bahkan jika tidak punya uang segitu, panjenengan cari-carikan. Padahal resepsi itu tidak ada perintah wajib di agama,” tegasnya.

Ikhwanushoffa menambahkan bahwa perintah agama yang bersifat fundamental adalah melaksanakan pernikahan itu sendiri, bukan menyelenggarakan pesta megah yang justru membebani finansial keluarga di masa depan. Hal ini, menurutnya, berbanding terbalik dengan sikap saat diminta berkurban atau bersedekah, yang sering kali dianggap sebagai beban berat.

Meneladani Kesederhanaan Era KH Ahmad Dahlan

Untuk memberikan perspektif sejarah, Ikhwanushoffa mengajak jemaah menengok kembali tradisi warga Muhammadiyah pada zaman pendiri persyarikatan, KH Ahmad Dahlan. Ia mengisahkan betapa kuatnya semangat filantropi warga kala itu yang lebih mengedepankan kepentingan organisasi dan umat di atas kepentingan pribadi.

Ikhwanushoffa menceritakan sebuah fragmen sejarah saat seorang warga hendak melangsungkan pernikahan (mantu) dan berkonsultasi kepada KH Ahmad Dahlan. Kyai Dahlan menanyakan besaran biaya yang disiapkan, yang kemudian dijawab “delapan gulden” oleh warga tersebut.

“Lalu Kyai bertanya lagi, ‘Kalau tak minta separuh buat Muhammadiyah boleh?’. Jawabannya, ‘Monggo Kyai’. Sekarang justru sebaliknya,” tambahnya dengan nada prihatin.

Kisah tersebut ia sampaikan untuk membandingkan betapa warga Muhammadiyah terdahulu memiliki sikap moderat dalam mengatur biaya hidup demi keberlangsungan dakwah umat. Tradisi inilah yang ingin dihidupkan kembali melalui momentum Idul Adha 1447 H.

Inovasi Rendangmu: Solusi Ketahanan Pangan

Sebagai bentuk implementasi dari semangat filantropi tersebut, Lazismu memperkenalkan program inovatif bertajuk Qurban Rendangmu. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan distribusi daging qurban agar lebih tepat sasaran dan memiliki manfaat jangka panjang.

Ikhwanushoffa menjelaskan bahwa Rendangmu merupakan produk murni dari inovasi Muhammadiyah. Keunggulan utama dari produk ini adalah kemasannya yang siap saji dan memiliki masa kedaluwarsa hingga dua tahun tanpa mengurangi kualitas rasa maupun kandungan gizi.

Program ini menjadi solusi konkret bagi masyarakat di wilayah pelosok atau daerah terdampak bencana yang sering kali tidak memiliki fasilitas penyimpanan (seperti lemari es) yang memadai. Dengan daging qurban yang telah diolah menjadi rendang kemasan, distribusi tidak lagi terikat oleh kendala waktu dan jarak.

Melalui Safari Qurban ini, Lazismu Jepara berharap warga Muhammadiyah dapat beralih dari pola qurban konvensional menuju qurban inovatif yang memberikan dampak berkelanjutan bagi ketahanan pangan bangsa.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

SHARE

LATEST POST

Scroll to Top