JEPARA – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Jepara memulai rangkaian Safari Zakat Ramadhan 1447 H dengan penuh optimisme. Bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Umar Hasyim Blimbingrejo, Nalumsari, pada Ahad (1/3/2026), kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi sekaligus edukasi bagi ratusan jemaah dari lima kecamatan, yakni Nalumsari, Mayong, Welahan, Kalinyamatan, dan Pecangaan.
Acara yang dipandu oleh MC Resa Levianingrum ini dimulai pukul 16.30 WIB. Meski dilaksanakan pada waktu kritis menjelang berbuka puasa, antusiasme jemaah terlihat sangat tinggi memenuhi ruangan gedung dakwah.
Bangkit dari Zona Merah
Dalam sambutannya, perwakilan Badan Pengurus Lazismu Jepara, Rahmad Mubtada’, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para jemaah. Ia mengungkapkan rasa syukur atas capaian luar biasa Lazismu Jepara yang berhasil keluar dari masa sulit atau “zona merah” dalam dua tahun terakhir.
“Kami sangat berterima kasih atas kerawuhan jemaah semua. Di jam-jam persiapan berbuka seperti ini, Bapak dan Ibu tetap menyempatkan hadir dalam acara gathering ini,” ujar Rahmad.
Ia memaparkan data pertumbuhan perolehan dana yang signifikan. Pada tahun 2024, penghimpunan Lazismu Jepara berada di angka Rp2,7 miliar, kemudian melonjak tajam menjadi Rp6,5 miliar pada tahun 2025. “Dengan capaian ini, kami menetapkan target ambisius sebesar Rp8 miliar pada tahun 2026. Kami mohon dukungan dari seluruh jemaah agar target tersebut dapat terealisasi demi kemaslahatan umat,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Hanbali yang mewakili Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jepara menegaskan bahwa target Rp8 miliar bukanlah hal mustahil jika dikerjakan dengan prinsip “sengkuyung bareng” atau gotong royong. Ia meminta seluruh Kantor Layanan (KL) di tingkat cabang hingga ranting untuk menyatu dan meyakinkan jemaah agar tidak ragu menyalurkan zakatnya melalui Lazismu.
Kritik Terhadap Fenomena “Lompat” Rukun Islam
Puncak acara diisi dengan tausiyah oleh Wakil Ketua Lazismu Jawa Tengah, Ikhwanushoffa, S.Pd. Dalam ceramahnya, ia menyoroti fenomena pelaksanaan Rukun Islam yang dinilai sering “melompat-lompat”. Ia mengkritik keras budaya masyarakat yang sangat bersemangat mengejar ibadah haji, namun sering kali mengabaikan kewajiban zakat.
“Anak-anak kita sering kali langsung dikenalkan dengan manasik haji setelah belajar salat. Mengapa manasik zakat dan pembiasaan sedekah tidak ditanamkan dengan semangat yang sama?” kritik Ikhwanushoffa retoris.
Merujuk pada Spirit Al-Ma’un, ia mengingatkan bahwa ibadah formal seperti salat bisa menjadi sia-sia jika pelakunya abai terhadap kemiskinan di sekitarnya. Beliau juga membandingkan gaya hidup masyarakat yang royal untuk acara seremonial, namun masih perhitungan dalam berzakat.
“Untuk biaya resepsi pernikahan atau pamitan haji, orang bisa mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah dengan ringan. Jika sebagian dana seremonial itu dialihkan untuk sedekah melalui Lazismu, dampaknya terhadap pengentasan kemiskinan di Jepara akan sangat masif,” tegasnya di hadapan jemaah.
Kegiatan Safari Zakat ini ditutup dengan aksi nyata berupa penyaluran bantuan secara simbolis kepada sejumlah mustahik. Langkah ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi jemaah untuk berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit, sesuai dengan amanah surah Ali Imran ayat 133–134.