Bagi warga Muhammadiyah, datangnya bulan suci Ramadhan selalu disambut dengan dua kesiapan utama: Kesiapan Ilmu dan Kesiapan Amal. Sebagai gerakan Islam yang berlandaskan kemajuan (Islam Berkemajuan), Ramadhan bukan hanya tentang kesalehan pribadi di atas sajadah, tetapi juga tentang bagaimana kesalehan itu berdampak bagi masyarakat luas.
- Menentukan Awal Bulan dengan Hisab Hakiki
Ciri khas yang paling melekat pada Muhammadiyah adalah penggunaan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Muhammadiyah tidak menunggu terlihatnya bulan secara fisik (rukyat), melainkan menggunakan perhitungan astronomi yang presisi.
Hal ini bukan sekadar soal teknis, melainkan cerminan dari sikap menghargai ilmu pengetahuan. Dengan hisab, umat memiliki kepastian penanggalan untuk perencanaan ibadah dan aktivitas publik jauh-jauh hari. Bagi Muhammadiyah, ilmu adalah alat untuk mempermudah urusan ibadah.
- Gerakan Filantropi: Bukan Sekadar Takjil Gratis
Di masjid-masjid Muhammadiyah, spirit Surah Al-Ma’un sangat terasa. Ramadhan adalah puncak dari gerakan filantropi. Melalui Lazismu (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Muhammadiyah), pengumpulan zakat, infak, dan sedekah dikelola secara profesional.
Kegiatannya tidak berhenti pada bagi-bagi takjil, tetapi merambah ke:
- Kado Ramadhan untuk keluarga dhuafa.
- Beasiswa pendidikan bagi yatim piatu.
- Yatim hebat Ramadhan kukuhkan semangat anak yatim
- Pemberdayaan ekonomi umat pasca-Ramadhan.
- Ibadah yang Efisien dan Bermakna
Muhammadiyah menekankan ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah (Manhaj Tarjih). Shalat Tarawih biasanya dilakukan dengan formasi 4-4-3 (total 11 rakaat) atau 2 rakaat sebanyak 4 kali ditambah witir.
Fokus utamanya bukan pada banyaknya jumlah rakaat, melainkan pada kualitas bacaan, kekhusyukan, dan pemahaman terhadap ayat-ayat yang dibaca. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk kembali “ngaji” dan membedah makna Al-Qur’an secara mendalam melalui pengajian-pengajian tarjih.
- Ramadhan sebagai Momentum Tajdid
Muhammadiyah memandang puasa sebagai sarana untuk melakukan evaluasi diri. Apakah selama setahun terakhir kita telah berkontribusi bagi kemajuan umat? Puasa mengajarkan kedisiplinan (karakter) dan empati (sosial). Inilah yang disebut dengan Puasa Progresif: puasa yang melahirkan individu-individu yang jujur, disiplin, dan peduli pada sesama.
Kesimpulan
Ramadhan Progresif ala Muhammadiyah adalah perpaduan antara ketaatan spiritual dan kecerdasan intelektual. Dengan semangat “Sedikit Bicara Banyak Bekerja,” warga Muhammadiyah menjadikan bulan ini sebagai bahan bakar untuk terus menggerakkan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial sepanjang tahun.
Yusuf Albaihaqi,
[Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PDM Jepara/Eksekutif Lazismu jepara]
Dan Perbanyak Amal Jariyah.
A really good blog and me back again.